Maenpo Peupeuhan Adung Rais telah memiliki website resmi yang dapat diakses pada alamat:

http://www.maenpo.or.id/

Advertisements

During the 70’s in Bandung, the renowned pendekar Adung Rais began to teach maenpo peupeuhan to the general public. Rais had been a student of Abah Salim, a master of Cikalong. According to Adung ‘maenpo’ was an abbreviation of ‘to not have rhythm’ (Sd: teu make tempo). What this meant was that maenpo peupeuhan was not bound to certain movement routines that were punctuated with breaks (in time).

Previously its practice had been restricted to the aristocracy. According to Mohamad Rafijen this was due to the fact that “the really dangerous stuff’ was taught only within closed circles whom the teacher trusted. The study of maenpo involved several rules (Sd: ugeran) that dissuaded many from studying it. The most important of these was teu numpangkeun rasa. This principle of ‘discarding ones feelings’ meant that a student must eliminate from themselves any feelings of pity or compassion towards their opponent.

Read the rest of this entry »

A Brief History of Maenpo Peupeuhan “Adung Rais”

Maenpo Peupeuhan adalah jenis bela diri yang sangat keras dan banyak
mempergunakan teknik pukulan yang sangat cepat, kuat, dan tepat,
dengan tujuan akhir untuk menyudahi pertarungan dengan kemenangan.
Karena menonjolnya peran peupeuhan (pukulan) maka bela diri disebut
lengkap Maenpo Peupeuhan.

Maenpo Peupeuhan diperkenalkan pertama kali pada pertengahan abad
ke-19 oleh pendekar silat berdarah santri-priyayi Cianjur, Jawa Barat,
bernama Raden Haji Muhammad Kosim. Keahlian pencak silatnya membuat ia disegani sebagai jawara (jago).

Read the rest of this entry »

Di dalam pelajaran Maenpo Peupeuhan terdapat yang disebut “usik napel” atau “ulin napel” (main tempel).

Napel (tempel) adalah satu bentuk pertarungan jarak dekat atau bisa disebut dengan menempel, karena pertarungan ini dilakukan dengan cara menempelkan tangan pada lawan. Dalam pertarungan dengan jarak dekat ini dituntut menggunakan kekuatan “rasa”, sebab dalam pertarungan ini kita mengadu kekuatan melalui penyaluran tenaga.

Pada ulin “napel” seorang ahli maenpo harus betul-betul waspada (caringcing), karena usik napel pada dasarnya sangat beresiko kalau tidak bisa menguasai dengan sempurna.

Read the rest of this entry »